INTIMES.co.id Masih lekat dalam ingatan kita, kala Hendra Sandi menghidupkan kembali asa timnas Indonesia di Final Piala AFF U19 2013 saat drama adu penalti, malam itu gemuruh pekikan publik sepakbola Aceh membahana di setiap sudut Tanoh Rincong.

Ingatan tentang malam itu akan selalu hidup. Diceritakan dari mulut ke mulut, dan disimpan rapi sebagai salah satu kebanggaan sepakbola Aceh yang tak akan mungkin dilupakan.

Tak hanya Hendra Sandi, di skuad asuhan Indra Syafri tersebut juga ada dua putra Aceh lainnya yaitu Zulfiandi dan Miftahul Hamdi, mereka menjadi ikon kebanggaan Bumi Serambi Mekkah kala itu.

Awal 2018, publik sepakbola Aceh kembali menaruh kebanggaan dalam diri Muhammad Reza Fauzan dan Amanar Abdillah yang dipercaya mengawal timnas U16 pada gelaran AFF di Thailand.

Kini Aceh seperti enggan melahirkan talenta berbakat yang menghiasi timnas, skuad runner up PON 2020 Papua yang digadangkan menjadi masa depan Aceh, hanya mampu meramaikan klub kasta kedua Liga Indonesia.

Bahkan di timnas era Shin Tae Young (STY) hanya ada satu nama Subhan Fajri yang mampu menembus seleksi ketat pelatih berdarah Korea tersebut, namun putra asal Bireun harus terdepak usai dilanda cedera berkepanjangan.

Apa yang salah dari kita, apakah persaingan merebut tempat di timnas sangat sulit, apa karena Aceh tak memiliki klub di Liga 1, atau mental pemain kita tak sekuat para pendahulunya.

Jika barometernya harus ada klub Aceh yang bermain di Liga 1, bagaimana dengan Kota Medan, mereka pun tak memiliki wakil di kasta tertinggi persepakbolaan Nasional, atau Kota Ambon yang bahkan tak memiliki klub profesional, namun mereka kerap mengirimkan satu atau dua pemain di setiap tahunnya.

Kemajuan sepakbola sebuah daerah tidak hanya ditandai dengan juara di event Pekan Olahraga atau kejuaraan skala nasional, tapi seberapa banyaknya pesepakbola kita dipanggil timnas.

Semoga kelak pesepakbola Aceh mampu mencatat kembali sejarah, bukan malah mengingat-ngingat kembali sejarah.