INTIMES.co.id | MEDAN – Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (IKAFEB USU) bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) menggelar seminar nasional bertema “Daya Tahan Ekonomi Nasional dan Regional Sumatera Utara di Tengah Ketidakpastian Global” di Gedung BI, Sabtu (26/8).

Kegiatan ini rangkaian peringatan 1 tahun periode kepengurusan IKAFEB USU 2022-2026 sebagai bentuk partisipasi terhadap pembangunan nasional dan regional Sumatera Utara. Narasumber seminar, Destry Damayanti (Deputi Gubernur Senior BI), M Chatib Basri (Komisaris Utama Bank Mandiri), Firsa Dida Mutyara (Ketua Kadin Sumut) dan Usli (Direktur Utama PT Mahkota Group Tbk).

Panitia satu tahun periode kepengurusan IKAFEB USU Kaswinata menyampaikan bahwa National Economic Seminar yang mereka laksanakan merupakan kegiatan “bintang lima”, karena menghadirkan para pakar dan ahli di bidangnya, serta bertaraf internasional. Peserta seminar 120 orang, terdiri praktisi Perbankan dari Medan dan Jakarta, Rektorat PTN & PTS di Kota Medan, akademisi dan dosen serta profesional, dan juga para pengusaha

Ketua IKAFEB USU Agus Dwi Handaya pada sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini merupakan kerjasama IKAFEB USU dengan kantor perwakilan BI Medan yang juga merupakan kegiatan seminar ke 2 setelah sebelumnya juga dilaksanakan seminar nasional di Bank Sumut pada 18 Agustus 22 bekerja sama antara IKAFEB USU, Bank Mandiri dan Bank Sumut dan kegiatan tasyakuran dalam memberikan santunan kepada anak yatim.

Dengan mengusung visi “Menghimpun Kekuatan, Memberikan Pengabdian Terbaik Menuju Kampus Global” telah banyak kegiatan yang dilakukan IKAFEBUSU dalam 1 tahun terakhir. Diantaranya Seminar Nasional kerjasama dengan IMD Business School dengan 1000 peserta dan Golf Charity Tournament piala Rektor USU serta kegiatan organisasi lainnya dalam bingkai aplikasi pengabdian terbaik alumni, untuk kampus USU, untuk Sumatera Utara dan untuk Indonesia.

Disampaikan juga bahwa para alumni FEB USU saat ini sudah banyak menempati posisi strategis di pemerintahan dan BUMN serta Pengusaha & Profesional hingga Konsul Jenderal Kehormatan.

Terkait dengan topik semonar, Agus berpandangan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong pertumbuhan Sumut adalah dengan terus meningkatkan sektor pengolahan yang saat ini berkontribusi sekira Rp 1.000 triliun terhadap PDRB Sumut.

“Selain itu yang menjadi pekerjaan rumah semua pihak untuk meningkatkan investasi dan produktivitas yang menjadi faktor penting peningkatan sektor pengolahan” jelasnya.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumut IGP Wira Kusuma mengapresiasi terselenggaranya seminar nasional yang merupakan wujud sinergi berbagai pemangku kepentingan memajukan perekonomian nasional dan Sumut di tengah ketidakpastian global.

Ia juga menyampaikan kondisi perekonomian Sumut yang membaik di tengah ketidakpastian global seiring perbaikan permintaan domestik, yakni tumbuh sebesar 5,19% (yoy) serta strategi BI dalam mengendalikan inflasi di daerah tetap terjaga dalam sasaran 3,0±1.

Seminar diawali pemaparan M Chatib Basri (Komut Bank Mandiri), menyampaikan overview terkait ekonoomi global dan proyeksi ekonomi di tahun 2021.

Basri menyampaikan bahwa perekonomian global masih dibawah bayang-bayang tekanan geo-politik antara Rusia-Ukrania dan AS-Tiongkok dan tingginya inflasi di Amerika Serikat yang akan memengaruhi harga energi dan komoditas.

“Bagi Sumut, konflik geopolitik ini akan memengaruhi harga sawit yang menjadi sektor unggulan. Karenanya perlu melakukan diversifikasi terhadap produk unggulan dan mulai mengurangi ketergantungan terhadap produk berbasis komoditas,” kata dia.

Narasumber Destry Damayanti (Deputi Gubernur Senior BI) menyampaikan BI melakukan langkah menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah agar momentum pemulihan ekonomi nasional dapat dipertahankan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia, sebutnya, tetap mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 meski Bank Sentral AS yang kembali menaikkan tingkat suku bunga acuannya menjadi 5,50 persen pada Juli 2023. Langkah ini merupakan upaya BI menjaga stabilitas inflasi sekaligus mendorong pertumbuhan kredit pada sektor riil agar mampu melakukan aktivitas ekonomi.

Meski tekanan perekonomian global akan memengaruhi harga sawit dan komoditas lain yang menjadi sektor unggulan Sumut, Firsa Dida Mutyara (Ketua Kadin Sumut) menyampaikan bahwa sektor-sektor ini masih akan bertahan dan sustain karena terbukti mampu tetap eksis.

Namun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut yang lebih tinggi, Firsa menyampaikan ada empat langkah yang perlu dilakukan, yakni mendorong industri berbasis komoditas unggulan dengan menciptakan nilai tambah sehingga mampu bersaing di pasar internasional, meningkatkan daya saing ekonomi kreatif dan UMKM melalui digitalisasi, meningkatkan promosi destinasi pariwisata dan mendorong peningkatan sumberdaya manusia melalui pendidikan dan vokasi.

Sejalan dengan Firsa, Dirut PT Mahkota Group Tbk Usli menyampaikan bahwa industri kelapa sawit memiliki potensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut. Sebab industri sawit mampu menghasilkan berbagai produk turunan, antara lain, biodiesel, kosmetik hingga ice cream.

“Agar mampu bertahan pada situasi ketidakpastian global harus memerhatikan empat hal, yakni meningkatkan produktivitas dan efisiensi, fokus sumber daya alam dan sumberdaya manusia, hilirisasi dan digitalisasi, menjaga keuangan yang kuat dan yang terakhir menciptakan kesejahteraan bersama dan ramah lingkungan,” pungkasnya.[]

Fakhrur
Editor