INTIMES.co.id – Menyandang status sebagai mahasiswa adalah anugerah yang amat penting dalam peradaban manusia. Selain dapat menjadi pionir untuk perubahan bangsa dan zaman, mahasiswa juga sebuah alternatif bagi mereka yang hendak menjadi manusia berkualitas. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana mereka ditempatkan pada area yang pekat dengan metodologis, teoretis, dan upaya-upaya lain yang berkaitan dengan penafsiran realitas secara kritis. Sehingga tidak mengherankan apabila dunia mahasiswa berisi tugas-tugas analitis seperti makalah, paper, proposal ataupun penelitian ilmiah.

Meski hal itu pada dasarnya sebagai tuntunan, tapi tak jarang justru menjadi sebuah hambatan. Mahasiswa hari ini tidak menyukai banyak tugas baik yang secara individu maupun berkelompok. Menurut (Fauziah, 2016) mereka cenderung menginginkan nilai-nilainya berasal dari sedikit tugas yang tidak terlalu berat. Dan karena hal tersebut, mahasiswa hari ini akhirnya akrab dengan perilaku prokrastinasi akademik. Dalam kajian psikologis, menurut (Zuraida, 2017) prokrastinasi akademik adalah kecenderungan menunda-nunda pengerjaan tugas formal secara sadar dengan alasan yang tidak masuk akal demi menepis kecemasannya.

Banyak penelitian yang mengemuka terkait prokrastinasi akademik. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan (Aminta dkk., 2023) terhadap mahasiswa Departemen Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang, yang mencatat bahwa presentase mahasiswa yang mengalami prokrastinasi akademik mencapai angka 79%. Meski menurut penelitiannya hal itu tergolong dalam kategori sedang, namun bukan berarti menjadi sesuatu yang wajar bagi keberlanjutan mahasiswa, terutama di era digital sekarang.

Asal-usul

Tindakan porkrastinasi ini bukan sesuatu yang baru dalam peradaban manusia. Sejak 800 SM, seorang penyair asal Yunani namanya Hesiod, mengambarkan kondisi masyarakat Yunani yang kerap gagal dalam melakukan sesuatu karena menunda-nunda. Perilaku menunda-nunda tidak hanya dialami oleh masyarakat Barat, dari wilayah Timur juga terdapat perilaku tersebut yang disematkan dalam kitab Hindu dengan istilah “taamasika”. Istilah itu merujuk pada tindakan ceroboh, malas, dan ketidakdisiplinan. Sehingga dalam tradisi Hinduisme, seseorang yang mengalami taamasika termasuk ke dalam orang-orang yang masuk neraka.

Baru pada tahun 1992, seorang Psikolog asal Amerika, Stanley Milgram, meneliti perilaku tersebut, yang kemudian disebut sebagai prokrastinasi. Milgram dalam (Nurjan, 2020) menegaskan bahwa tindakan prokrastinasi muncul sejak peradaban kuno pada kelompok atau komunitas berkembang. Hanya saja dalam beberapa dekade terakhir menjadi fokus oleh beberapa peneliti karena perkembangan teknologi. Selain itu, dalam psikologi, prokrastinasi ini termasuk dalam penyakit yang berjenis arketipe, yaitu penyakit yang terbentuk secara tidak sadar dari kebiasaan para leluhur.

Redaksi
Editor
Achmad Fauzan Syaikhoni
Reporter