INTIMES.co.id – Dewasa ini, kiranya bukan hal baru jika manusia hidup dalam fenomena kebanjiran informasi. Media massa dan media sosial yang kerap dianggap sebagai sumber informasi, kini keberadaannya seolah-olah justru menjadi sumber disinformasi. Sebagaimana laporan dari Katadata Insight Center (KIC) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tahun 2021, mencatat setidaknya 30 sampai 60 persen pengguna internet di Indonesia terpapar hoaks ketika mengakses ruang digital. Dengan begitu, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa manusia modern dihadapkan dengan musuh terbesar mereka, yakni yang bernama kebenaran.

Seorang novelis bernama Steve Tesich, mengemukakan hal yang betul-betul representatif dengan era sekarang. Dalam tulisannya yang berjudul “The Watergate Syndrome: A Government of Lies” tahun 1992, ia berpendapat bahwa manusia modern sebenarnya dengan sadar memutuskan untuk hidup berdampingan dengan ketidakjelasan kebenaran. Dengan kata lain, manusia modern secara sadar mengkonstruksi suatu informasi menjadi kebenaran berdasarkan subjektivitas dan emosional mereka. Dalam kamus oxford dictionary, era yang menyelimuti kondisi manusia semacam itu disebutnya sebagai “post-truth”.

Tentu persoalan post-truth tidak lepas dengan keberadaan media, utamanya media massa. Seorang jurnalis yang adalah subjek primer dari keberadaan media massa, mau tidak mau mengemban tanggung jawab yang berat atas persoalan di era post-truth. Selain tugasnya secara umum sebagai pengepul, pengolah, dan penyebar informasidi konteks ini saya pikir seorang jurnalis juga dapat dikatakan sebagai khalifah dari apapun yang berkaitan dengan kemanusiaan. Terlebih lagi, seorang jurnalis dapat menjadikan profesinya sebagai sarana untuk mengamalkan amar makruf nahi munkar.

Dengan andaian itu, ada satu pembahasan penting dari diskursus jurnalisme yang perlu dibedah. Sebagai salah satu mahasiswa sarjana ilmu komunikasi, pembahasan itu terbilang jarang muncul dalam diskusi-diskusi mahasiswa, bahkan dalam kurikulum perkuliahan. Oleh karenanya, selain untuk menanggapi persoalan post-truth, barangkali tulisan ini nanti bisa menjadi pemantik untuk para pembelajar jurnalisme, utamanya kawan-kawan mahasiswa.

Konsepsi Jurnalisme Profetik

Bagi sebagian kalangan, mungkin sebutan jurnalisme profetik masih terkesan asing dalam perbendaharaan kata. Bahkan, kawan saya yang mahasiswa komunikasi saja, masih kebingungan ketika saya bertanya mengenai jurnalisme profetik. Katanya pada saat itu, “jurnalisme profetik itu, ya, seseorang yang berprofesi sebagai jurnalis”. Ya, memang tidak sepenuhnya salah, sih, mungkin dia menjawab demikian karena ada kata “profetik” yang kesannya sama dengan “profesi”.

Dari hal itu saya pikir sudah bisa jadi petanda, bahwa pemahaman profetik dalam struktur paling awal pembentukan seorang jurnalis pun masih kurang. Oleh karena itu, supaya sedikit melengkapi kekurangan tersebut, mari memahami apa itu jurnalisme profetik sebelum pada pemecahan era post-truth.

Secara kebahasaan, jurnalisme profetik bisa diartikan sebagai paham jurnalistik yang menyangkut nilai-nilai kenabian. Sebagaimana penjelasan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika, Heri Ruslan dalam suaramuhammadiyah.id dengan judul “Jurnalisme Profetik, Berikut Ciri-cirinya Menurut Praktisi Media”, bahwa jurnalisme profetik itu bukanlah deskripsi teoretis, melainkan pemahaman terhadap karakter seorang jurnalis yang mengamalkan empat sifat nabi, seperti sidiq, amanah, tablig, dan fatanah. Dari situ, bisa dikatakan bahwa jurnalisme profetik berkaitan dengan dimensi etis seorang jurnalis.

Konsep jurnalisitik dalam dimensi etis kemudian bisa dilihat secara eksplisit dalam buku “Jurnalisme Profetik” karya Parni Hadi, bahwa seorang jurnalis profetik, itu tidak hanya sebatas orang yang melakukan kegiatan memproduksi, dan melaporkan berita dari hasil liputan peristiwa fakta. Lebih dari itu, jurnalis profetik adalah orang yang melampaui identitasnya, karena di setiap kegiatannya membawa aspek kemanusiaan, termasuk juga sebagai subjek yang menuntun manusia untuk membangun peradaban. Di titik inilah mengapa tampak ada perbedaan antara jurnalisme secara umum dengan jurnalisme profetik.