INTIMES.co.id | MEULABOH – Mahasiswa UTU berunjuk rasa dalam menanggapi persoalan pelecehan seksual yang ada di kampus dan belum ada kejelasan perkembangan kasus hingga sudah setahun lamanya.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Organisas Mahasiswa (ORMAWA) lingkup kampus Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, menggelar aksi di gedung Terintegrasi UTU, Jumat (19/5).

“Aksi tersebut bentuk sebagai protes dan penolakan terhadap pelecehan seksual yang terjadi di lingkup kampus Universitas Teuku Umar,” kata Kordinator Aksi, Desi.

Aksi tersebut berlangsung di dua titik yang berbeda, titik pertama di Gedung Kampus Terintegrasi (GKT UTU) dari pukul 09:30/11:30 Wib, dan titik ke dua di depan Gedung Rektorat UTU.

Sejumlah mahasiswa tersebut melakukan aksi dangan berorasi secara bergantian dan pembagian selebaran kertas kepada tiap mahasiswa yang lain untuk mengajak dan mengawal isu pelecehan seksual yang hari ini menyelimuti kampus tersebut agar bersama-sama menjaga kampus bersih dari yang namanya predator seks.

Adapun kronologis kejadian pelecehan seksual yang saat ini dialami salah satu mahasiswi UTU tersebut, sampai saat ini korban tidak mendapatkan keadilan setelah dia mengalami dugaan pelecehan seksual oleh seniornya.

Desi mengatakan, di duga korban juga sudah melapor ke Satgas Ad-Hoc PPKS UTU (sementara) pada bulan November 2022, namun setelah hampir 6 bulan lebih si korban menununggu tapi tidak ada kepastian terhadap kasusnya dari satgas Ad-Hoc PPKS sampai berganti satgas Defenitif (Tetap) terbentuk pada bulan Desember belum juga ada kejelasan.

Dimana baru-baru ini salah satu teman korban menanyakan kembali tentang perkembangan kasus temannya ke Satgas PPKS Defenitif, namun satgas PPKS Defenitif menjawab tidak ada kasus.

Padahal Satgas Ad-Hoc sudah melimpahkan kasus-kasus yang belum selesai ke pimpinan kampus, dan seharusnya satgas PPKS Defenitif mempunyai wewenang untuk menangani kasus-kasus yang belom selesai itu harus dilanjutkan oleh satgas PPKS Defenitif tersebut, namun sekarang Satgas PPKS Defenitif berdalih sudah sesuai SOP, mereka mengatakan.

“itu kasus satgas Ad-Hoc PPKS, bukan satgas PPKS Defenitif,” saat dihubungi lewat via Whatsapp oleh salah satu teman korban.

Malahan sekarang Satgas PPKS Defenitif menyuruh korban untuk melapor balik, tentunya hal ini akan membuat lelah dan bisa menimbulkan trauma karena harus melapor dan melakukan BAP kembali dan dicerca pertanyaan lagi.

“Ditambah belakangan ini korban sering tanpa sengaja bertemu pelaku itu yang menimbulkan ketakutan bagi korban. Apalagi berkaca melihat kasus kekerasan seksual sebelumnya yang juga pernah terjadi dikampus UTU, di mana kampus seperti setengah hati dan menup-nutupi putusan kasus tersebut, “tutup Desi”.

Dalam aksinya, kata Desi, mahasiswa mendesak pihak rektorat untuk segera mengevaluasi Satgas PPKS Defenitif, mendesak pimpinan mengubah persyaratan semester dalam syarat pendaftaran anggota Satgas, dan agar segera mengungkap serta mempublikasi nama pelaku pelecehan seksual yang terjadi di perguruan tinggi negeri tersebut tidak terjadi lagi.

Desi mengatakan mahasiswa juga mendesak kepada pimpinan perguruan UTU agar memberikan hak dan jaminan kepada korban pelecehan seksual. Termasuk, lanjut dia, menghentikan segala bentuk intimidasi dan intervensi terhadap korban pelecehan seksual di kalangan mahasiswi.

Para peserta unjuk rasa juga meminta Rektor Universitas Teuku Umar Meulaboh memberikan sanksi menurut UUD yang berlaku terhadap oknum pelecehan seksual terhadap mahasiswi.

Serta memberikan sanksi kepada civitas akademika yang melakukan pelecehan verbal maupun nonverbal terhadap mahasiswa atau mahasiswi.

Pantauan dari Intimes di lokasi unjuk rasa, Meski sudah menyampaikan aspirasi di depan Gedung Terintegrasi Kampus dan Gedung Ruang Rektorat, Rektor dan Wakil Rektor tidak menemui mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa tersebut.

Malah yang menemui sejumlah mahasiswa aksi adalah anggota Satgas PPKS Definitif, berbagai upaya di lakukan oleh Satgas untuk menenangkan para peserta aksi, sampai akhirnya jalur yang di tempuh adalah melakukan dialog terbuka antara mahasiswa dengan Satgas PPKS di depan Gedung Rektorat.

Rita Hartati, ketua Satgas PPKS Defenitif dalam dialog terbukanya menyampaikan bahwa sampai saat ini, Satgas Ad-Hoc sebelumnya tidak pernah melimphkan berkas kasus tersebut ke satgas PPKS Defenitif, Namus meski demikian, Rita mengatakan akan segera mengungkap kasus pelecehan tersebut, menanggapi statemen ketua satgas tersebut.

Syarip, salah satu mahasiswa unjuk rasa mempertanyakan. “Butuh berapa lama lagi satgas mengusut ini, ini kasus udh hampir 1 tahun lebih loh, kemana aja berarti kalian selama ini, atau mungkin kalian sengaja untuk menutup-nutupi kasus ini demi nama baik UTU, tanpa kalian sadari si korban semakin troma dan terganggu psikisnya selagi pelaku masih berkeliaran dalam kampus,” pungkas Syarip.

Menanggapi statemen tersebut, Rita kembali mengeluarkan statemen “Ya kalo kalian mau kasus ini cepat selesai, kalian bawalah korban dan serahkan ke kami agar kami proses”, mendengar hal tersebut sontak membuat para aksi semakin marah, karena di anggap satgas tidak serius dalam menangani kasus tersebut, dan seakan tidak peduli dengan privasi si korban.

Kekecewaan mahasiswa pun memuncak ketika tahu bahwa pimpinan tidak ada di kampus dan penjelasan dari pihak satgas PPKS pun tidak cukup menjawab persoalan persoalan yang sedang di suarakan oleh mahasiswa UTU. Sehingga mahasiswa mendirikan tenda di area kampus sambil menunggu kepulangan pimpinan kampus UTU.[]