Intimes | BANDA ACEH – Provinsi Aceh, pada minggu ketiga Februari 2023 ini, untuk yang ketiga kali menerima beras impor sebanyak 6.000 ton.

Pertama bulan Januari 10.000 ton dari Thailand, kedua sebanyak 7.500 ton dari Vietnam dan ketiga 6.000 ton dari Thailand.

“Kapal pengangkut beras impor dari Thailand itu, sore ini akan merapat ke Dermaga Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya Aceh Besar,” kata Pemimpin Perum Bulog Kanwil Aceh, Irsan Nasution kepada Serambinews.com, Senin (20/2/2023) di Banda Aceh.

Beras impor dari Thailand sebanyak 6.000 ton, yang akan masuk pada sore nanti itu, setibanya di Gudang Beras Bulog Aceh, di Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, akan dimasukkan ke dalam kemasan beras medium ukuran 5 Kg warna kuning.

Beras impor dari Thailand yang dikemas, dalam kemasan plastik warna kuning ukuran 5 Kg itu, kata Irsan Nasution, akan ditempatkan di pasar ritel modern di berbagai kabupaten/kota, seperti Indomaret, Alfamart dan lainnya, untuk dijual secara eceran dengan harga Rp 49.750/bungkus.

Tujuan dari penempatan beras impor Bulog tersebut di pasar ritel modern tersebut, menurut Irsan Nasution, untuk perluasan penjualan beras operasi Bulog di berbagai pasar.

Hal ini agar bisa dijadikan sampel oleh petugas penghitung angka inflasi dan deflasi dari BPS Aceh, dalam pemantauan harga beras guna menghitung perkembangan Indek Harga Kelompok Makanan (IHK), sebagai penghitungan naik turunnya angka inflasi dan deflasi tiga Kota, yaitu Kota Banda Aceh, Lhokseumawe dan Aceh Barat, serta daerah lainnya.

Pihak BPS menyatakan, kenapa beras operasi Bulog, yang digunakan sebagai stabilisasi pasokan  dan harga pangan (SPHP), belum dijadikan sampel dalam penghitungan IHK angka inflasi atau deflasi Aceh, karena penyebaran barangnya tidak sebanyak beras lokal, seperti beras Blang Bintang, Tangse dan lainnya.

Beras impor dari Thailand sebanyak 6.000 ton itu, akan dikemas semuanya ke dalam kantong plastik beras medium Bulog warna kuning ukuran 5 Kg. Setelah di kemas, beras tersebut ditempatkan di semua pasar tradisional maupun pasar ritil modern yang ada di wilayah Aceh.

Beras impor dari Thailand itu, akan kita jadikan komoditi barang dagangan pangan trendy yang dicari masyarakat Aceh, tidak hanya karena kualitas berasnya bagus, tapi juga karena harganya murah meriah hanya Rp 9.950/Kg, dibandingkan beras medium lokal Rp 11.300 – Rp 11.500/Kg.

Kenapa beras impor dari Thailand itu dijadikan komoditi dagangan bahan pangan pokok yang trendy, karena kualitas berasnya sudah teruji dan harganya terjangkau oleh masyarakat miskin.

Beras yang dijual di Pasar Murah Pemerintah Aceh, selama ini dengan ukuran 5 Kg dan 10 Kg itu, pada umumnya beras impor dari Thailand yang masuk pada bulan Januari 2023 sebanyak 10.000 ton.

Karena kualitasnya berasnya sudah bagus dan teruji, dan pihak Ditreskrimsus Polda Aceh, juga sudah melihat fisik berasnya di Gudang Bulog Gampong Siron, Ingin Jaya, maupun di tempat penjualan beras di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar.

Pada operasi pasar beras minggu kemarin, kualitasnya tidak kalah dengan kualitas beras medium maupun premium lokal, makanya Bulog berani menjadikan beras impor dari Thailand tersebut sebagai beras  SPHP medium yang trendy dan dicari, disukai dan digemari konsumen beras di Aceh.

Stok beras saat ini di Gudang, sebut Irsan Nasution, sekitar 6.000 ton. Akan masuk beras impor dari Thailand melalui Pelabuhan Krueng Raya, Aceh Besar sebanyak 6.000 ton. Kecuali itu, dua hari lagi akan masuk beras impor kedua dari Vietnam sebanyak 7.500 ton melalui Pelabuhan Krueng Geukuh Lhokseumawe.

Total beras impor yang masuk ke Aceh dari Januari sampai Februari 2023 mencapai 19.500 ton. Sedangkan yang telah dikeluarkan dari gudang untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah Aceh, jumlahnya sudah lebih dari 8.000 ton.

“Ini artinya, sisa stok beras impor kita di Aceh untuk stok ketahanan pangan lokal dan nasional, masih ada sekitar 10.000 ton lagi,” pungkas Irsan Nasution.(*)

Sumber : Serambinews.com